MIKROBA DALAM TANAH
Khalifatisifa Ramadhani
Pendidikan Biologi,UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pada kenyataannya, tanah harus dipandang
sebagai bagian tubuh yang hidup, karena di dalamnya merupakan reservoir biota
tanah yang masing-masing mempunyai peranan penting untuk mencapai kondisi
keseimbangan ekosistem (Doran, et al., 1996).
Keberadaan
mikroba di dalam tanah memainkan peranan penting pada siklus biogeokimia dan
sangat responsif untuk daur ulang senyawa organik. Mikroba tanah mempengaruhi
kondisi ekosistem di dalam tanah oleh kontribusinya dalam penyediaan nutrisi
tanaman (Timonen et al, 1996), kesehatan tanaman (Fillion, et al., 1999),
struktur tanah (Dodd, et al., 2000) dan kesuburan tanah (Yao, et al.,
2000 dan O’Donnell et al., 2001).
Kriteria
kesuburan tanah ditentukan oleh kombinasi tiga faktor yang saling berinteraksi,
yaitu faktor fisis, khemis dan biologis. Karakteristik fisis dan khemis tanah
dapat dipahami lebih sempurna daripada karakteristik biologis-nya. Oleh
karenanya lebih banyak diketahui status fisis dan khemis tanah, dan sedikit
informasi tentang status biologis tanah. Memang ada sedikit kesulitan dalam
menentukan status biologis tanah, karena substansinya bersifat hidup, dinamis
dan dapat mengalami perubahan pada ruang dan waktu. Sifat dinamis pada status
biologis tanah ini memberikan peluang besar dalam pengelolaannya. Status
biologis tanah dapat memberikan peringatan dini adanya degradasi tanah,
sehingga memungkinkan untuk menerapkan praktek-praktek pengelolaan lahan yang
lebih berkelanjutan (Loreau et al, 2001).
Aspek biologis tanah sangat kompleks dan
membutuhkan pemahaman yang lebih baik, karena belum banyaknya informasi tentang
jumlah dan keanekaragaman mikroba tanah, serta bagaimana tingkat aktivitasnya
dalam mempertahankan tanah yang subur dan produktif (Fitter et al,
2005). Mikroba di dalam tanah yang mempunyai kemampuan dalam penyediaan nutrisi
tanaman menjadi bagian penting para agronomis di bidang pertanian. Kegiatan
introduksi mikroba dalam bentuk agensia hayati menjadi pilihan untuk dilakukan
dalam upaya reduksi pupuk kimia dan mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan
(Prihastuti, 2008)
Tanah dapat
dipandang sebagai suatu kesatuan kehidupan daripada hanya suatu tubuh tanah
saja. Komponen organik tanah mengandung semua bentuk kehidupan dalam tanah dan
yang sudah mati maupun yang sedang mengalami proses dekomposisi (Loreau et
al, 2001).
Keberadaan
mikroba di dalam tanah secara alami mempunyai peranan untuk menjaga fungsi
tanah dan mengendalikan produktivitasnya, karena sebagai kunci dalam berbagai
proses kehidupan tanah, seperti pembentukan struktur tanah, dekomposisi bahan
organik, mengubah zat racun, siklus C, N, P dan S (van Elsas dan Trevors,
1997).
Beberapa jenis mikroba tanah yang mempunyai arti penting dalam
kestabilan ekosistem di dalam tanah adalah:
1. Bakteri
Bakteri
merupakan kelompok mikroba tanah yang paling dominan, mencapai separuh
dari biomassa mikroba dalam tanah. Dalam setiap gram tanah subur
mengandung sedikitnya satu juta organisme bersel satu ini dan jumlah populasi
bakteri akan semakin menurun dengan bertambahnya kedalaman tanah. Jumlah
populasi dan jenis bakteri ditentukan oleh kondisi tanahnya, yang berfungsi
sebagai lingkungan tumbuhnya. Banyak jenis bakteri yang berbeda dapat ditemukan
di dalam tanah, masing-masing mempunyai peranan tertentu dalam lingkungan
tanah. Salah satu manfaat utama bakteri adalah menyediakan nutrisi tanaman.
Beberapa spesies bakteri melepaskan nitrogen, belerang, fosfor, dan trace
elemen dari material organik. Peranan bakteri yang lain adalah memecah
tanah mineral, melepaskan kalium, fosfor, magnesium, kalsium dan besi. Masih
ada spesies lain yang berperan dalam membuat dan melepaskan hormon pertumbuhan
tanaman dan untuk merangsang pertumbuhan akar (Schloss and Handelsman, 2006).
and Handelsman, 2006).
Beberapa
jenis bakteri penambat nitrogen dari perakaran tanaman kacang-kacangan bekerja
melalui asosiasi dengan tanaman. Bakteri ini bertanggung jawab untuk mengubah
nitrogen dari amonium menjadi nitrat dan kembali lagi tergantung pada kondisi
tanah tertentu. Manfaat bakteri untuk tanaman yang lainnya adalah meningkatkan
kelarutan nutrisi, memperbaiki struktur tanah, melawan penyakit akar dan
menetralkan racun tanah. Bakteri penting di dalam dinamika air, siklus hara dan
supresiv patogen (Anonim, 2010).
2. Jamur
Jamur di
dalam tanah hadir dalam berbagai jenis, ukuran dan bentuk yang berbeda.
Beberapa spesies muncul sebagai benang-benang dan membentuk seperti koloni,
sementara yang lain adalah satu-sel yang disebut ragi/yeast. Jamur benang dan
jamur kancing (mushrom) disebut juga fungi. Banyak jamur yang membantu
tanaman melalui pemecahan bahan organik atau pelepasan nutrien dari mineral
tanah. Jamur umumnya cepat untuk menjajah potongan-potongan besar bahan organik
dan memulai proses dekomposisi. Beberapa jamur menghasilkan hormon tanaman,
sedangkan yang lain menghasilkan antibiotik, termasuk penisilin. Bahkan ada
jenis jamur yang berbahaya sebagai perangkap nematoda parasit tanaman (Cutler
and Hill, 1994)
PEMELIHARAAN STRUKTUR KOMUNITAS MIKROBA TANAH
Sekalipun
sejak tahun 1960-an para ahli mikrobiologi telah mengkaji peranan diversitas
mikroba tanah terhadap fungsi kestabilan ekosistem, namun perhatiannya kurang
begitu tinggi terhadap fungsi ekologi dan resiliensi ekosistem tanah (Harrison,
et al, 1968).
Hubungan yang
sering dikaji adalah diversitas mikroba tanah, kualitas tanah dan tanaman,
serta keberlanjutan ekosistem. Sekalipun demikian yang terdokumentasi hanyalah
hubungan antara tingkat supresiv tanah terhadap penyakit tanaman dan diversitas
atau kemelimpahan komunitas mikroba tanah (Abawi and Widmer, 2000; Nitta,
1991).
Kriteria
kesuburan tanah ditentukan oleh kombinasi tiga faktor yang saling berinteraksi,
yaitu faktor fisis, khemis dan biologis. Karakteristik fisis dan khemis tanah
dapat dipahami lebih sempurna daripada karakteristik biologis-nya. Oleh
karenanya lebih banyak diketahui status fisis dan khemis tanah, dan sedikit
informasi tentang status biologis tanah. Memang ada sedikit kesulitan Mikroba
berguna (effective microorganism) sebagai komponen habitat alam mempunyai peran
dan fungsi penting dalam mendukung terlaksananya pertanian ramah lingkungan
melalui berbagai proses, seperti dekomposisi bahan organik, mineralisasi
senyawa organik, fiksasi hara, pelarut hara, nitrifikasi dan denitrifikasi.
Dalam aliran .pertanian input organik., mikroba diposisikan sebagai produsen
hara, tanah dianggap sebagai media biosintesis, dan hasil kerja mikroba
dianggap sebagai pensuplai utama kebutuhan hara bagi tanaman. Di Amerika
Serikat, mikroba tanah dipandang sangat penting, sehingga menjadi salah satu
indikator dalam menentukan indeks kualitas tanah
(Karlen et al, 2006)
Bakteri
Rhizobium dapat diinokulasi ke biji legum untuk memperbaiki nitrogen dalam
tanah. Bakteri nitrogen-fixing hidup di bintil akar khusus pada kacang-kacangan
seperti semanggi, kacang, medis, pial dll Mereka mengekstrak gas nitrogen dari
udara dan mengubahnya menjadi bentuk bahwa tanaman dapat digunakan. Bentuk
fiksasi nitrogen dapat menambah setara dengan lebih dari 100 kg nitrogen per
hektar per tahun. Azotobacter, Azospirillum, Agrobacterium, Gluconobacter,
Flavobacterium dan Herbaspirillum merupakan contoh bakteri,
nitrogen-memperbaiki hidup bebas, sering dikaitkan dengan non-legum. Sampai
saat ini, inokulasi tanah dengan organisme ini belum terbukti sebagai cara yang
efektif untuk fiksasi nitrogen meningkat untuk tanaman non-legum (Ugama, 2010).
Bakteri
aerobik adalah mereka yang membutuhkan oksigen, jadi mana tanah aerob
berdrainase baik cenderung mendominasi. Anaerob adalah bakteri yang tidak
memerlukan oksigen dan mungkin akan beracun. Kelompok ini termasuk jenis yang sangat
kuno bakteri yang hidup di dalam agregat tanah. Bakteri anaerob mendukung
basah, tanah buruk dikeringkan dan dapat menghasilkan senyawa beracun yang
dapat membatasi pertumbuhan akar dan predisposisi penyakit tanaman ke akar.
Actinobacteria merupakan bakteri yang membantu tanah memecah humates dan asam humat pada tanah. Actinobacteria lebih suka tanah non-asam dengan pH lebih tinggi dari 5. oxidisers Sulfur Banyak tanah mengandung mineral sulfida tetapi bentuk belerang sebagian besar tidak tersedia untuk tanaman. (Yuliana, 2010)
Actinobacteria merupakan bakteri yang membantu tanah memecah humates dan asam humat pada tanah. Actinobacteria lebih suka tanah non-asam dengan pH lebih tinggi dari 5. oxidisers Sulfur Banyak tanah mengandung mineral sulfida tetapi bentuk belerang sebagian besar tidak tersedia untuk tanaman. (Yuliana, 2010)
Mikroorganisme penyubur tanah
dapat juga dimanfaatkan dalam dunia pertanian
Pemanfaatan
teknologi mikroba di bidang pertanian dapat meningkatkan fungsi mikroba
indigenous (asli alamiah), dalam berbagai sistem produksi tanaman, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Pertanian ramah lingkungan secara umum
diartikan sebagai usaha pertanian yang bertujuan untuk memperoleh produksi
optimal tanpa merusak lingkungan, baik secara fisik, kimia, biologi, maupun
ekologi. Aspek keberlanjutan sistem produksi merupakan salah satu ciri
pertanian ramah lingkungan. Kriteria pertanian ramah lingkungan adalah (1)
terpeliharanya keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekologis biota pada
permukaan dan lapisan olah tanah, (2) terpeliharanya kualitas sumber daya
pertanian dari segi fisik, hidrologis, kimiawi, dan biologi mikrobial, (3) bebas
cemaran residu kimia, limbah organik, dan anorganik yang berbahaya atau
mengganggu proses hidup tanaman, (4) terlestarikannya keanekaragaman genetik
tanaman budi daya, (5) tidak terjadi akumulasi senyawa beracun dan logam berat
yang membahayakan atau melebihi batas ambang aman, (6) terdapat keseimbangan
ekologis antara hama penyakit dengan musuh-musuh alami, (7) produktivitas lahan
stabil dan berkelanjutan, dan (8) produksi hasil panen bermutu tinggi dan aman
sebagai pangan atau pakan (Sumarno et al. 2007).
Jenis dan Fungsi Mikroba Penyubur Tanah
Mikroba penyubur tanah yang sering digunakan dalam bidang
pertanian antara lain adalah:
1. Bakteri
Fiksasi Nitrogen
Azotobacter
Berbagai jenis bakteri fiksasi N2 secara hayati, antara lain
terdiri atas rhizobia, sianobakter (ganggang hijau biru), bakteri
foto-autotrofik pada air tergenang dan permukaan tanah, dan bakteri
heterotrofik dalam tanah dan zona akar (Ladha and Reddy 1995, Kyuma 2004).
Bakteri tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara, baik secara
simbiosis (root-nodulating bacteria) maupun nonsimbiosis (free-living
nitrogen-fixing rhizobacteria). Pemanfaatan bakteri fiksasi N2, baik yang
diaplikasikan melalui tanah maupun disemprotkan pada tanaman, mampu
meningkatkan efisiensi pemupukan N. Dalam upaya mencapai tujuan pertanian ramah
lingkungan dan berkelanjutan, penggunaan bakteri fikasi N2 berpotensi
mengurangi kebutuhan pupuk N sintetis, meningkatkan produksi dan pendapatan
usahatani dengan masukan yang lebih murah.( Boddey et al. 1995)
Bakteri fiksasi N2 yang hidup bebas pada daerah perakaran dan
jaringan tanaman padi, seperti Pseudomonas spp., Enterobacteriaceae, Bacillus,
Azotobacter, Azospirillum, dan Herbaspirillum telah terbukti mampu melakukan
fiksasi N2 (James and Olivares, 1997).
Populasi Azotobacter dalam tanah dipengaruhi oleh pemupukan dan
jenis tanaman. Kelompok prokariotik fotosintetik, seperti sianobakter, mampu
mempertahankan kesuburan ekosistem pada kondisi alami lahan pertanian melalui
kemampuannya mengikat N2 (Albrecht, 1998)
2.
Mikroba
Pelarut Fosfat
Bacillus
Alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan P dan untuk
mengatasi rendahnya P tersedia atau kejenuhan P dalam tanah adalah dengan
memanfaatkan kelompok mikroorganisme pelarut Psebagai pupuk hayati.
Mikroorganisme pelarut P adalah mikroorganisme yang dapat melarutkan P sukar
larut menjadi larut, baik yang berasal dari dalam tanah maupun dari pupuk,
sehingga dapat diserap oleh tanaman.
Berbagai spesies mikroba pelarut P, antara lain Pseudomonas,
Microccus, Bacillus, Flavobacterium, Penicillium, Sclerotium, Fusarium, dan
Aspergillus,
berpotensi tinggi dalam melarutkan P terikat menjadi P tersedia dalam tanah . Mekanisme
pelarutan P dari bahan yang sukar larut terkait erat dengan aktivitas mikroba
bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase dan fitase. Penggunaan mikroba
pelarut P merupakan salah satu pemecahan masalah peningkatan efisiensi
pemupukan P yang aman lingkungan, yang sekaligus dapat menghemat penggunaan
pupuk P. (Alexander 1977)
3.
Mikoriza
Mikoriza berperan meningkatkan serapan P oleh akar tanaman.
Mikoriza memiliki struktur hifa yang menjalar luas ke dalam tanah, melampaui
jauh jarak yang dapat dicapai oleh rambut akar. Pada saat P berada di sekitar
rambut akar, maka hifa membantu menyerap P di tempat-tempat yang tidak dapat
lagi dijangkau rambut akar. Daerah akar bermikoriza tetap aktif dalam
mengabsorpsi hara untuk jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan akar
yang tidak bermikoriza (Simanungkalit 2007).
4.
Bakteri pereduksi sulfat
Degradasi bahan organik di lingkungan anerob dapat terjadi melalui
proses reduksi sulfat. Bakteri pereduksi sulfat merupakan perombak bahan
organik utama dalam sedimen anaerob, dan berperan penting dalam mineralisasi
sulfur organik dan produksi Fe dan P mudah larut. (Sherman et al. 1998).
5.
Rizobakteri penghasil zat pemacu tumbuh
Rhizobium
Bakteri pemacu tumbuh secara langsung memproduksi fitohormon yang
dapat menginduksi pertumbuhan. Peningkatan pertumbuhan tanaman dapat terjadi
ketika suatu rizobakterium memproduksi metabolit yang berperan sebagai
fitohormon yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tien et al.
1979)
Bakteri pemacu tumbuh secara tidak langsung juga menghambat
patogen melalui sintesis senyawa antibiotik, sebagai kontrol biologis. Beberapa
jenis endofitik bersimbiosis mutualistik dengan tanaman inangnya dalam
meningkatkan ketahanannya terhadap serangga hama melalui produksi toksin, di
samping senyawa anti mikroba seperti fungi Pestalotiopsis microspora, danTaxus
walkchiana yang memproduksi taxol (zat antikanker) (Strobel et al. 1999).
Miles et al. (1998) melaporkan bawa endofitik Neotyphodium sp. Menghasilkan
N-formilonine dan a paxiline (senyawa antiserangga hama).
6.
Mikroba perombak bahan organic
Trichoderma
Pengertian umum mikroorganisme perombak bahan organik atau
biodekomposer adalah mikroorganisme pengurai serat, lignin, dan senyawa organik
yang mengandung nitrogen dan karbon dari bahan organik (sisa-sisa organik dari
jaringan tumbuhan atau hewan yang telah mati). Mikroba perombak bahan organik
terdiri atas Trichoderma reesei, T. harzianum, T. koningii, Phanerochaeta
crysosporium, Cellulomonas, Pseudomonas, Thermospora, Aspergillus niger, A.
terreus, Penicillium, dan Streptomyces. Fungi perombak bahan organik umumnya
mempunyai kemampuan yang lebih baik dibanding bakteri dalam mengurai sisa-sisa
tanaman (hemiselulosa, selulosa dan lignin). Umumnya mikroba yang mampu
mendegradasi selulosa juga mampu mendegradasi hemiselulosa (Alexander 1977).
Menurut Eriksson et al. (1989), kelompok fungi menunjukkan aktivitas
biodekomposisi paling nyata, yang dapat segera menjadikan bahan organik tanah
terurai menjadi senyawa organik sederhana, yang berfungsi sebagai penukar ion
dasar yang menyimpan dan melepaskan hara di sekitar tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, M.
1977. Introduction to soil mycrobiology. 2nd Ed. John Wiley and Sons. New York.
467 p.Banik, S. and B.K. Dey. 1982. Available phosphate content of an alluvial soil as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing micro-organisms. Plant and Soil 69: 353-364.
Doran J. W. , M. Sarrantonio, dan M. A. Liebig. 1996. Soil health and sustainability. Adv. Agron. 56:2–54
Eriksson, KEL, R.A. Blanchette, and P. Ander. 1989. Microbial and enzymatic degradation of wood and wood components. Springer-Verlag Heildeberg. New York.
Filion, M., M. St-Arnaud, J. A. Fortin. 1999. Direct interaction between the arbuscular mycorrhizal fungus
Glomus intraradices and different rhizosphere microorganisms. New Phytol. 141, 525–533.
Fitter, A. H., C. A. Gilligan, K. Hollingworth, A. Kleczkowski, K. M. Twyman, J. W. Pitchford, and The members of the Nerc Soil Biodiversity Programme. 2005. Biodiversity and ecosystem function in soil. British Ecological Society (19): 369-377
Illmer, P. and F. Schinner. 1992. Solubilization of inorganic phosphate by microorganisms isolated from forest soils. Soil Biol. Biochem. 24: 389- 395.
James, E. and F.L. Olivares. 1997. Infection and colonization of sugarcane and other graminaceous plants by endophytic diazotrophicus. Plant Science. 17:77-119.
James E.K., P. Gyaneshwara, W.L. Barraquio, N. Mathan, and J.K Ladha. 2000. Endophytic diazotroph associated with rice. In: J.K. Ladha, P.M. Reddy (Eds.). The quest for nitrogen fixation in rice. IRRI.
Jordan, D.C. 1984. Famili III. Rhizobiaceae conn 1938, 321AL, p. 234-256. In: N.R. Krieg and J.E. Holt (Eds.). Bergey’s manual of systematic bacteriology, vol. 1. The William and Wilkins Co., Baltimore.
Kuykendall, L.D., B. Saxena, T.E. Devine, and S.E. Udell. 1992. Genetic diversity in Bradyrhizobium japonicum Jordan 1982 and a proposal for Bradyrhizobium elkanii sp. nov. Canadian J. Microbiol. 38:501-505.
Kristensen, E., M. Holmer, and N. Bussarawit. 1991. Benthic metabolism and sulfate reduction in a south-east Asian mangrove swamp. Mar. Ecol. Prog. Ser. 73:93-103.
Ladha, J.K. and P.M. Reddy. 1995. Extension of nitrogen fixation to rice: necessity and possibilities. GeoJournal. 35:363-372.
Loreau, M., S. Naeem, P. Inchausti, J. Bengtsson, J. P. Grime, A. Hector, D. U. Hooper, M. A. Huston, D. Raffaelli, B. Schimid, D. Tilman and D. A. Wardle. 2001. Biodiversity and Ecosystem Funtioning: Current Knowledge and Future Challenges. Science (294): 804-808
Miles, C.O., M.E. diMena, S.W.L. Jacobs, I. Garthwaite, G.A. Lane, R.A. Prestidge, S.L. Marshal, H.H. Wilkinson, C.L. Schardl, O.J.P. Ball, and C.M.Latch. 1998. Endophytic fungi in indigineous Australian grasses associated with toxicity to livestock. Appl. Environ. Microbiol. 64:601-606.
Olivares, F.L., V.L.D. Baldani, V.M. Reis, J.I. Baldani, and J. Dobereiner. 1996. Occurrence of the endophytic diazotrophs Herbaspirillum spp. In roots, stems and leaves predominantly of Gramineae. Biology Fertility Soils, 21: 197-200.
Prihastuti. 2008. Adopsi pupuk hayati di Indonesia: antara harapan dan realita. Dalam Saleh. N. Rahmianna, A.A., Pardono, Samanhudi, Anam, C dan Yulianto (Penyunting). 2008. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian, Surakarta, 7 Agustus 2008. Fakultas Pertanian/Pascasarjana Agronomi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Hlm. 76-81 .
Sherman, R.E., T.J. Fahey, and R.W. Howarth. 1998. Soil-plant interactions in a neotropical mangrove forest:iron, phosphorus, and sulfur dynamics. Oecologia 115:553-563.
Simanungkalit, R.D.M. 1997. Effectiveness of 10 species of arbuscular mycorrhizal (AM) fungi isolated from West Java and Lampung on maize and soybean, p. 267-274. In: U.A. Jenie (Ed.). Proc. Indonesian Biotechnology Conference, Vol. II . The Indonesian Biotechnology Consortium, IUC Biotechnology IPB, Bogor.
Strobel, G.A., E. Ford, J.Y. Li, J. Sears, R.S. Sidhu, and W.M. Hess. 1999. Seimatoantlerium tepuiense gen. Nov., a unique epiphytic fungus producing taxol from the Venezuelan Guyana. Syst. Appl. Microbiol. 22:426-433.
Tien, T.M., M.H. Gaskin, and D.H. Hubell. 1979. Plant growth substances produced by Azospirillum brasilense and their effect on the growth of pearl millet (Pennisetum americanum L.). Appl. Environt. Microbiol. 37:1016-1024.
Timonen, S., R. D. Finlay, S. Olsson, dan B. Soderstrom. 1996. Dynamics of phosphorous translocation in intact ectomycorrhizal systems: non-destructive monitoring using a B-scanner. FEMS Microbiol. Ecol. 19, 171– 180.
van Elsas J. D dan J. T. Trevors. 1997. Modern Soil Microbiology. New York: MarcelDekker
Yao, H., Z. He, M. J. Wilson, dan C. D. Campbell. 2000. Microbial biomass and community structure in a
sequence of soils with increasing fertility and changing land use. Microb. Ecol. 40, 223– 237.
https://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/12/08/pemanfaatan-mikroorganisme-dalam-penyuburan-tanah/ Diakses pada tanggal 24 April 2015, pukul 20.35 WIB
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21783/4/Chapter%20II.pdf Diakses pada tanggal 24 April 2015, pukul 20.55 WIB
http://naystandon.blogspot.com/2015/01/laporan-praktikum-mikrobiologi-mikroba.html Diakses pada tanggal 24 April 2015, pukul 21.03 WIB
http://litbang.bantenprov.go.id/2011/wp-content/uploads/peran_mikroba_dlm_pertanian_organik1.pdf Diakses pada tanggal 24 April 2015, pukul 21.52